Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Friday, 9 September 2016

Profil Beberapa Ahli Psikoanalisis

 Profil Tokoh Psikologi

Beberapa Ahli Psikologi , terutama Psikoanalisis dimana bapak dari para ahli tersebut adalah seorang psikologi terkenal bernama Sigmund Freud, namun banyak penerus Psikoanalisis yang merasa bahwa psikoanalisis dari Sigmund kurang sret ! nah disini ada beberapa profil dari beberapa pembaharuan dari para ahli tersebut !

Check it Out :
http://kumpulanmakalahpsikologi.blogspot.co.id/





Banyak tokoh lainnya , namun hanya segini pengetahuan saya , dan ini adalah beberapa temuan dari sekian miliyar jutaan dari beberapa jurnal tentang profil para tokoh. Mohon disimak baik-baik.

Thursday, 8 September 2016

Makalah Psikologi Sosial | Berpikir Kritis Dan Kreatif



BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Berpikir kritis tidak sama dengan mengakumulasi informasi. Seseorang dengan daya ingat baik dan memiliki banyak fakta tidak berarti seseorang pemikir kritis. Seorang pemikir kritis mampu menyimpulkan dari apa yang diketahuinya, dan mengetahui cara memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah dan mencari sumber-sumber informasi yang relevan untuk dirinya.
Berpikir kritis tidak sama dengan sikap argumentatif atau mengecam orang lain, berpikir krtitis bersifat netral, objectif tidak bias. Meskipun berpikir kritis dapat digunakan untuk menunjukan kekeliruan atau alasan-alasan yang buruk. Pemikir kritis mampu melakukan introspeksi tentang kemungkinan bias dalam alasan yang dikemukakannya.
B.        Rumusan Masalah
1.       Apa yang di maksud dengan berpikir Kreatif ?
2.       Apa yang di maksud kreativ dalam psikologi?
3.       Apa yang dimaksud dengan berpikir Kritis ?
4.       Apa yang dimaksud dengan Kritis dalam Psikologi?
C.        Manfaat dan Tujuan
1.       Mengetahui tentang berpikir Kreativ!
2.       Mengetahui Kreativitas dalam Psikologi!
3.       Mengetahui tentang Berpikir Kritis!
4.       Mengetahui Kritis dalam Psikologi!



BAB II PEMBAHASAN
BERPIKIR KREATIF DAN KRITIS

A.        Kajian Berpikir Kreatif

-          Cara berpikir kreatif adalah cara berpikir yang dipenuhi dengan ide atau gagasan dalam mengembangkan daya imajinasi.
-          Berpikir kreatif adalah kemampan mendayagunakan  potensi yang dimiliki yang muncul dari berbagai keadaan.

B.        Hambatan Dalam Berpikir kreatif
Menurut psikolog Robert W. Olson, hambatan-hambatan seseorang  untuk menjadi kreatif antara lain:
a.       Kebiasaan: kebiasaan dalam melaksanakan pekerjaan yang sama dengan cara yang sama
b.      Waktu: kesibukan sering dijadikan alasan untuk tidak kreatif, padahal setiap orang, baik yang kreatif sekalipun mempunyai waktu yang sama 1    hari     24 jam
c.        Dibanjiri masalah: Hidup tidak terlepas dari yang namanya masalah, Tetapi jika kita mempu menentukan skla prioritas, maka kita dapat memandang semua masalah sebagai tantangan kreatif.
d.      Tidak ada masalah: Kita adalah makhluk pemecah masalah yang terus-menerus menghadapi dan memecahkan sejumlah masalah. Jika masalah kita dipecahkan secara otomatis atau menurut kebiasaan,kita tidak akan pernah mempunyai masalah.
e.      takut gagal: kegagalan manusia dalam berusaha dapat berbentuk pengasingan, kritik, kehilangan waktu,  kehilangan pendapatan, kecelakaan. Akan tetapi, lebih baik gagal dari pada tidak pernah mencoba.
f.        Kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang: Manusia tidak mau mengalami  kesulitan karena tidak memiliki  jawaban langsung. Jadi ketika  masalah dikemukakan, kita secara langsung memberikan pemecahan.
g.       Kurang memperluas wawasan: Setiap orang harus terus belajar mengembangkan  diri, memperluas wawasan dengan menbaca dan praktik.
h.      takut bersenang-senang: Manusia sering tidak sadar bahwa rileks, bergembira, dan santai merupakan aspek-aspek penting dari proses pemecahan masalah secara kreatif, sedangkan situasi tegang dan stres akan menumpulkan kreativitas seseorang.
Dibutuhkan ide-ide dan gagasan yang fleksibel: Setiap gagasan dan ide baru dan segar akan selalu merangsang   kreativitas seseorang, akan tetapi  ide pemecahan masalah di suatu tempat belum tentu tepat diberlakukan   ditempat lain.

C.    Kajian Psikologi tentang Kreativitas

                Secara konvensional Kreativitas didefinisikan dengan pendekatan yaitu pendekatan:
 – pribadi yang kreatif
 – proses kreatif
 – dan produk kreatif.
          Kemudian timbul pandangan baru yang menyatakan bahwa pendekatan Pendorong  juga penting untuk memahami Kreativitas.

Pribadi yang kreatif

Menurut Hullbeck (1945 dalam Heru Basuki 2005) pribadi kreatif didefinisikan sebagai “Creative action is an imposing ofe one’s own whole personality on the environment in a unique and characteristic way”. Tindakan kreatif mucul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.

Proses yang Kreatif
          -     Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock 1978).
-     Proses kreatif sebagai “munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak” (Rogers, 1982)
Penekanan pada : – aspek baru dari produk kreatif yang dihasilkan
Torrance (1979) menekankan adanya ketekunan, keuletan, kerja keras, jadi jangan tergantung timbulnya inspirasi.
Torrance (1955, 1988) Kreativitas didefinisikan sebagai proses yang menyerupai langkah-langkah dalam metode ilmiah, yaitu:
a.            Memahami adanya kesulitan, masalah kesenjangan informasi, elemen yang hilang, sesuatu yang menyimpang (askew).
b.            Memperkirakan dan merumuskan hipotesis tentang perbedaan-perbedaan.
c.             Menilai dan mengetes perkiraan (guesses) dan hipotesis
d.            Memperbaiki dan mengetes kembali
e.            Mengkomunikasikan hasil.
Definisi Torrance tersebut bersifat unik karena meliputi seluruh langkah-langkah kreatif mulai dari menemukan masalah sampai dengan menyampaikan hasil.
Produk yang kreatif
Definisi yang terfokus pada produk kreatif menekankan unsur orisinalitas, kebaruan, kebermaknaan.
Definisi yang menekankan kebaruan seperti dikemukakan (Baron, 1969 dalam Davis 1993: 47) “Creativity may be defined, quite simply, as the ability to bring something into existence”. “Kreativitas dapat didefinisikan sangat sederhana sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru”.
Sedang yang menekankan pada orisinalitas, misalnya pernyataan Mason (1960) sebagai berikut: “Creativeness in the best senseof word, requires two things: an original concept, or “idea”, and benefit someone”. “Kreativitas dalam pemahaman yang paling baik mempersyaratkan dua hal: suatu konsep atau ide yang orisinal dan suatu keuntungan bagi seseorang.
Dan definisi yang menekankan pada kebermaknaan dikemukakan oleh Haefle (1962), sebagai berikut: “Creativity is defineed as the ability to make new combination of social worth”. Kreativitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan membuat kombinasi baru yang bermakna sosial.
D.   Berpikir Kritis
berpikir kritis adalah sebuah kemampuan berpikir dalam menilai sebuah informasi sebelum ia menjadi pikiran dan tersimpan menjadi memori. Seorang pemikir kritis diharapkan mampu untuk menyimpulkan informasi yang diketahuinya setelah sebelumnya ia mengurai informasi tersebut berupa peristiwa, berita, dan pikiran yang semula utuh, lalu menjadi satuan-satuan kecil, kategori-kategori, kelompok-kelompok, serta memahami detil dari satuan, kategori, atau kelompok tersebut. Mengetahui cara memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah, dan mencari sumber-sumber informasi yang relevan untuk dirinya.
o   Merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi dan melakukan penelitian ilmiah.
o   Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi.
o   Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi dan pendapat orang lain.
Berpikir kreatif adalah kegiatan mental yang memupuk ide-ide asli dan pemahaman-pemahaman baru
E.    Psikologi Kritis  (critical of psycology)
Psikologi kritis adalah sebuah perspektif tentang psikologi yang menarik ekstensif pada teori kritis. Psikologi kritis tantangan psikologi utama dan upaya untuk menerapkan pemahaman psikologis dengan cara yang lebih progresif, sering melihat ke arah perubahan sosial sebagai sarana untuk mencegah dan mengobati psikopatologi.          
Salah satu kritik utama psikologi kritis terhadap psikologi konvensional adalah bahwa ia gagal untuk mempertimbangkan atau sengaja mengabaikan cara perbedaan kekuasaan antara kelas sosial dan kelompok-kelompok dapat mempengaruhi mental dan fisik kesejahteraan individu atau kelompok orang. Hal ini dilakukan, sebagian, karena cenderung menjelaskan perilaku pada tingkat individu.



BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
1.         Berpikir Kreatif adalah
-          Cara berpikir kreatif adalah cara berpikir yang dipenuhi dengan ide atau gagasan dalam mengembangkan daya imajinasi.
-          Berpikir kreatif adalah kemampan mendayagunakan  potensi yang dimiliki yang muncul dari berbagai keadaan.

2.         Kreatif dalam Psikologi adalah
Secara konvensional Kreativitas didefinisikan dengan pendekatan yaitu pendekatan:
 – pribadi yang kreatif
 – proses kreatif
 – dan produk kreatif.
          Kemudian timbul pandangan baru yang menyatakan bahwa pendekatan Pendorong  juga penting untuk memahami Kreativitas.

3.         Berpikir Kritis adalah
berpikir kritis adalah sebuah kemampuan berpikir dalam menilai sebuah informasi sebelum ia menjadi pikiran dan tersimpan menjadi memori.
4.         Psikologi Tentang Kritis
Psikologi kritis adalah sebuah perspektif tentang psikologi yang menarik ekstensif pada teori kritis. Psikologi kritis tantangan psikologi utama dan upaya untuk menerapkan pemahaman psikologis dengan cara yang lebih progresif, sering melihat ke arah perubahan sosial sebagai sarana untuk mencegah dan mengobati psikopatologi.               


Perkembangan Motorik



BAB II
PENGANTAR

1.       Gangguan Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian tersebut berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan massa yang ada pada waktu lahir. Sebelum perkembangan tersebut terjadi, anak akan tetap tidak berdaya.[1]
Perkemabangan fisik atau disebut juga perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kemabangnya kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembangan motorik ini meliputi perkembangan motorik kasar dan dan motorik halus.
a.       Perkembangan motorik kasar
Kemampuan untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk dalam perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan untuk melakukan gerakan tubuh.
b.      Perkembangan motorik halus
Perkembangan motorik halus adalah perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau hanya sebagian anggota tubuh tertentu. Perkembangan pada aspek ini untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggungting dan menyusun balok termasuk contoh dalam gerakan motorik halus.[2]
beberapa gangguan perkembangan motorik yang nampak pada anak usia dini:
1.       Berat badan  yang tidak normal dalam perkembangan koordinasi motorik, yang tidak disebabkan oleh retardasi mental, gangguan neurologis yang didapat maupun konginental (Development Coordination Disorder). Gangguan ini bisa bersamaan dengan kesulitan bicara. 
2.       Saat bayi anak tidak bisa merangkak, kalau merangkak seperti merayap Bila duduk posisi kaki seperti huruf “ w” , Anak tampak aneh dalam berjalan, sering jatuh, tersandung dan menabrak , Lambat belajar berlari, melompat dan naik turun tangga, Kesulitan mengikat sepatu, Kesulitan memasang dan melepaskan kancing, melempar dan menangkap bola , Anak tampak lamban dalam gerak motorik halus & kasar , Benda yang dipegang sering jatuh , Tidak pandai menggambar, tulisannya sangat jelek , Sulit mengerjakan permainan jigsaw, menggunakan permainan yang konstruksional , Sering disebut juga: the clumsy child syndrome , Sering dijumpai kesulitan bersekolah, Pada beberapa kasus bersamaan dengan gangguan perkembangan emosional dan perilaku. 

2.       Kriteria gangguan menurut Pedoman Diagnosis
Gambaran utama dari gangguan ini adalah hendaya berat dalam perkembangan koordinasi motorik yang tidak semata-mata disebabkan oleh retardasi mental atau gangguan neurologis khas baik yang didapat atau yang kongenital (selain dari yang secara implisit ada kelainan koordinasi). Sesuatu yang biasa bahwa kelambanan motorik dihubungkan dengan hendaya dalam kemampuan melaksanakan tugas kognitif visuo-spasial.
Kriteria Gangguan (Pedoman Diagnosis)
-          Koordinasi motorik anak, dalam gerak halus atau kasar, harus secara bermakna di bawah rata-rata dari yang harus berdasarkan usianya dan inteligensia umum. Keadaan ini terbaik dinilai dengan tes baku dari koordinasi motorik.
-          Kesulitan dalam koordinasi harus sudah tampak sejak dalam fase perkembangan awal (bukan merupakan hendaya yang didapat), dan juga bukan akibat lansung dari gangguan penglihatan atau pendengaran atau dari gangguan neurologis lainnya.
-          Jangkauan dari gangguan yang meliputi koordinasi motorik halus dan kasar sangat luas, dan pola hendaya motorik bervariasi sesuai usia. Tahap perkembangan motorik dapat terlambat dan dapat berkaitan dengan kesulitan berbicara (khususnya mengenai gangguan artikulasi).
Anak tampak aneh cara berjalannya, lambat belajar berlari, meloncat dan naik turun tangga. Terdapat kesulitan belajar mengikat tali sepatu, memasang dan melepaskan kancing, serta melempar dan menangkap bola. Anak tampak lamban dalam gerak halus dan kasar, benda yang dipegang mudah terjatuh, tersandung, menabrak, dan tulisan tangan yang buruk. Tak pandai menggambar, dan silit mengerjakan permainan “jigsaw” menggunakan perlatan konttruksional, menyusun bentuk banginan, membangun model, main bola serta menggambar dan mengerti peta. Sering disebut juga “the Clumsy Child Syndrome”
-          Kesulitan bersekolah dan dijumpai dan kadang-kadang tarafnya sangat berat; dalam beberapa kasus terdapat juga masalah perilaku sosio-emosional, tetapi freuensi dan cirinya tidak banyak diketahui.
-          Tidak dijumpai kelainan neurologis yang nyata (seperti cerebral palsy atau distrofi otot). Pada kebanyakan kasus kelambatan perkembangan neurologis (didapatkan “soft neurological signs” yang dapat terjadi pada anak normal tanpa menunjukkan lokasi lesi). Pada beberapa kasus dapat dijumpai riwayat komplikasi perinatal. Seperti berat badan lahir rendah (lahir prematur).


BAB II
PENYEBAB MUNCULNYA GANGGUAN

Pada usia sekolah di mana aktivitas anak mencapai puncaknya, sangat tinggi kemungkinan terjadinya kelelahan atau kecelakaan yang dapat menimbulkan gangguan motorik. Gangguan perkembangan lain yang banyak muncul pada masa anak anatara lain gangguan bicara, keterlambatan mental, autis, lambat belajar, gangguan pemusatan perhatian attention deficit disoreder, dan lain-lain.[3]

Ketika anak melakukan aktivitas kemungkinan besar banyak terjadinya faktor-faktor yang dapat menyebabkan perkembangan motorik kasar dan halus terganggu, seperti :

-           kecelakaan yang dapat menyebabkan cacat pada anak sehingga mempengaruhi proses perkembangan motorik anak.
-          obesitas yaitu kelebihan berat badan sehingga anak tidak dapat bergerak bebas lebih banyak diam dari pada melakukan sesuatu yang dapat menransang perkembangan motoriknya.
-          Ketegangan emosi menggangu ketangkasan motorik. Kesiapan tubuh untuk berpiralaku dalam permainan ketakasan motorik menjadi berat, menyebabkan anak menjadi kaku dan canggung, serta dapat mengakibatkan gangguan bicara antara lain menggagap.[4]



BAB III
INTERVENSI UNTUK MENGATASI GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIK

Jurnal  THE IMPACT OF EDUCATIONAL PLAY ON FINE MOTOR SKILLOF CHILDREN yang disusun oleh Mojgan Farahbod Asghar Dadkhah, Ph.D., yang dimuat dalam jurnal Middle East Journal of Family Medicine Penelitian ini dilakukan dalam upaya untuk membandingkan koordinasi mata-tangan, koordinasi tangan-tangan dan kecepatan keterampilan tangan (kanan dan kiri) dalam dua kelompok anak-anak.
Dalam jurnal tersebut Schaaf (1990) menyatakan bahwa menerapkan pendekatan integrasi sensorik dalam terapi okupasi untuk anak-anak sebelum-sekolah dan menunjukkan efek pengobatan melalui penilaian perilaku bermain. Bundy (1993) menyatakan bahwa terapis okupasi menggunakan bermain sebagai sarana untuk menciptakan keberhasilan terapi. Dia merekomendasikan bahwa terapis okupasi harus memberikan definisi yang tepat dari bermain. Karena bermain merupakan sarana penting untuk intervensi, itu harus dibedakan dari kegiatan yang tidak- bermain. Jika terapis okupasi percaya pada pentingnya bermain mereka akan menganggapnya sangat serius. Perlakuan komponen dasar keterampilan, seperti keterampilan motorik halus dan kasar, yang ada dalam anak bermain, dapat menjadi pendekatan intervensi (Bundy & Clifford, 1989).[5]
               
a.    Terapi Okupasi
Occupational therapy berasal dari kata occupational yang artinya aktivitas dan therapy berarti penyembuhan atau pemulihan, sehingga occupational therapy adalah proses penyembuhan melalui aktivitas. Aktivitas yang dikerjakan tidak hanya sekedar membuat sibuk pasien, melainkan aktivitas fungsional yang mengandung efek terapetik dan bermanfaat bagi pasien. Artinya aktivitas yang langsung diaplikasikan dalam kehidupan.
Sebagian penyandang kelainan perilaku, juga mempunyai perkembangan motorik yang kurang baik. Gerak-geriknya kasar dan kurang luwes bila dibandingkan anak normal sesusianya. Pada anak-anak ini perlu diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan kemampuan ototnya. Otot jari tangan misalnya, sangat penting dikuatkan dan dilatih supaya anak bisa menulis dan melakukan semua hal yang membutuhkan keterampilan otot jari tangan. Seperti juga menunjuk, bersalaman, memegang raket, memetik gitar, main piano, dan lain-lain.[6]

BAB VI
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Perkemabangan fisik atau disebut juga perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kemabangnya kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembangan motorik ini meliputi perkembangan motorik kasar dan dan motorik halus.
Pada usia sekolah di mana aktivitas anak mencapai puncaknya, sangat tinggi kemungkinan terjadinya kelelahan atau kecelakaan yang dapat menimbulkan gangguan motorik. Gangguan perkembangan lain yang banyak muncul pada masa anak anatara lain gangguan bicara, keterlambatan mental, autis, lambat belajar, gangguan pemusatan perhatian attention deficit disoreder, dan lain-lain.
Sebagian penyandang kelainan perilaku, juga mempunyai perkembangan motorik yang kurang baik. Gerak-geriknya kasar dan kurang luwes bila dibandingkan anak normal sesusianya. Pada anak-anak ini perlu diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan kemampuan ototnya. Otot jari tangan misalnya, sangat penting dikuatkan dan dilatih supaya anak bisa menulis dan melakukan semua hal yang membutuhkan keterampilan otot jari tangan. Seperti juga menunjuk, bersalaman, memegang raket, memetik gitar, main piano, dan lain-lain.


[1] Elizabeth B.Hurlock, “Perkembangan Anak”, Jilid 1, pernerbit erlangga, hal.150
[2] Dr.Zulehah Hidayati, “Anak Saya tidak nakal, kok”, penerbit B First, PT Bentang Pustaka, hal.61
[3] Aulia Fadhli, “Buku Pintar Kesehatan Anak”, 2010, Pustaka Anggrek, Yogyakarta. Hal.10
[4] Dra. Yulia Singgih D. Gunarsa, “asas-Asas Psikologi : Keluarga Idaman”PT BPK Gunung Mulia, Hal. 61
[5] Journal THE IMPACT OF EDUCATIONAL PLAY ON FINE MOTOR SKILLOF CHILDREN
[6] Jurnal Proveitae, Volume 2, FAK.UNIV Psikologi Tarumanegara , Jakarta, OBOR INDONESIA.